PROPORSI KEPEMILIKAN SAHAM DI AWAL BISNIS

Hari ini saya mendapat pelajar menarik mengenai kepemilikan saham dalam start-up business. Mengenai penentuan proporsi kepemilikan saham dalam membuka sebuah usaha baru  berbeda-beda antara satu pebisnis dengan pebisnis lainnya. Setidaknya ada lima cara penentuan kepemilikan saham dalam sebuah bisnisPengalaman yang saya dapatkan ini langsung dari pengalaman teman saya yang menginspirasi saya menulis artikel ini mengenai pembagian proporsi saham dihubungkan dengan karakter kepemimpinan.

Teman saya ini memiliki karakter baik ingin memotivasi orang lain ketika ia mengajak orang lain untuk bergabung bisnis dengan dia. Mengenai motivasi seseorang menjalankan bisnis bersama orang lain tentu beda-beda, tetapi saya tidak akan membahasnya dalam tulisan ini secara luas. Tulisan ini lebih fokus kepada pengalaman pengambilan keputusan proporsi kepemilikan saham dalam bisnis teman saya. Teman saya ini kita sebut saja si A, memiliki impian untuk membuat bisnis nya sendiri (apakah Anda juga ada yang berfikiran sama?).

Mulai lah ia menekuni nya bersama orang lain. Usaha ini bergerak di bidang kuliner di satu daerah di pulau Jawa. Ia adalah seorang chef dengan pengalaman memasak di resto yang cukup besar. Selain menjadi chef, ia juga mendapat kepercayaan untuk menjadi manajer operasional merangkap pemasaran di tempat awal ia bekerja. Bersama pengalaman – pengalaman inilah menjadikan ia percaya diri membuka usaha kuliner nya yang pertama. Usaha ini membawa keberhasilan pemasukan bagiaia dan teman bisnisnya. Tidak kurang dari dua juta satu hari omset nya yang ia terima. Tetapi semakin ramai usaha – nya mulai lah cobaan internal seorang pengusaha dimulai. Teman bisnis nya merasa bahwa kepemilikan saham nya terlampau sedikit. Saat itu proporsi saham kepemilikan bisnis tersebut adalah 50% - 25% - 25%. Si A 50% dengan pertimbangan kesepakatan bahwa ia chef dan mengerti bisnis kuliner, lalu temannya yang lain menjadi pemodal dengan proporsi uang disetor untuk modal dibagi rata tergantung persentase kepemilikan saham.  Jadi apabila modal tersebut 10 juta, maka si A 5 jt dan dua orang teman-temannya masing-masing 2,5 juta.

Semakin lama suasana manajemen usaha itu semakin tidak kondusif, karena kritik – kritik yang muncul mengenai pengelolaan bisnis. Para pemilik bisnis sudah tidak berada dalam satu kepemimpinan lagi. Tenggang rasa sudah mulai menipis seiring dengan banyaknya uang yang diterima. Si A dengan karakter tidak ingin merusak persahabatan dan malas berdebat memutuskan untuk keluar dari bisnis, teman-temannya yang lain dipersilahkan untuk membeli saham nya atau dia akan membawa beberapa aset bisnis. Jadilah si A keluar dari bisnis itu. Tidak lama kemudian usaha tersebut bangkrut. Impian membesarkan bisnis menjadi pupus.

Apa yang bisa saya pelajari dari cerita ini? Ternyata untuk usaha awal yang baru dimulai dan baru berkembang dibutuhkan kepemimpinan yang tegas. Kepemimpinan tegas  ini di legitimasi juga oleh kepemilikan saham usaha yang dominan selain dari karakter pebisnis tersebut.  Menurut pertimbangan saya, kalau muncul masalah dalam bisnis, mayoritas saham bisa mengambil keputusan ‘veto’. Diskusi boleh diawali oleh mereka pemilik bisnis secara bersama-sama, ambillah keputusan secara bersama-sama. Akan tetapi apabila sudah melewati hal itu semua dan masih belum bisa mengambil keputusan, pemimpin bisnis harus mengambil keputusan. Apabila hal ini dibiarkan larut tentunya akan membuat suasana bisnis menjadi tidak kondusif. Hal ini yang membuat pebisnis dengan mayoritas saham diperlukan.

Seperti hal nya ketika kita ingin mencari makan bersama – sama dengan teman atau pasangan. Beberapa orang akan mengalami situasi membingungkan dengan mempersilahkan orang lain untuk mengambil keputusan. Percakapan seperti, “kamu yang pilih tempat makan ya” “ah enggak usah, kamu aja yang milih aku yang ikut” “aku bingung mau makan apa.” Situasi ini situasi yang menggambarkan tidak adanya kepemimpinan. Biasanya situasi ini akan berlangsung selama beberapa waktu hingga seseorang dengan sikap kepemimpinan yang tegas akan memutus pembicaraan ini dengan solusi tempat makan yang tepat.
Situasi – situasi semacam ini membuktikan bahwa ketegasan sifat kepemimpinan seseorang dalam kondisi kehidupan sehari-hari saja penting untuk ada. Apalagi ketika kita sedang membuat sebuah bisnis yang bisa melibatkan banyak orang dan banyak uang dengan impian yang besar.

Saran saya untuk teman-teman yang ingin memulai usaha, sebaiknya Anda mulai melatih sifat kepemimpinan Anda terutama dalam ketegasan. Selain itu, ketegasan itu ditopang dengan kepemilikan saham mayoritas sehingga keputusan tegas bisa diambil oleh sang pemimpin. Ada beberapa orang yang khawatir atau ragu dalam mengambil keputusan yang tegas. Mantan wakil presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla (JK), pernah memberikan pemikiran bahwa seorang pemimpin adalah seseorang yang tegas dan berani mengambil keputusan. Tidak membiarkan situasi yang dipimpinnya dalam kondisi status quo. JK menambahkan apa yang mau dievaluasi untuk lebih baik dalam sebuah keputusan kalau keputusan itu belum diambil? Keputusan yang salah adalah konsekuensi wajar. Hal yang tidak wajar adalah ketika tidak mengambil keputusan. Penting juga diingat bahwa tidak mengambil keputusan adalah keputusan. Jadi yakinkah dengan keputusan Anda untuk mengambil suatu keputusan atau membiarkan untuk tetap tidak ada keputusan? Bagaimana mau memiliki bisnis besar tetapi takut mengambil keputusan? Seorang pebisnis besar adalah seorang pemimpin besar yang mengambil berbagai keputusan. Baik itu keputusannya salah ataupun benar, ia mengambil keputusan. Ketakutan ia untuk mengambil keputusan itu digunakan untuk berhati - hati dalam mengambil keputusan, sehingga akan membuat keputusan terbaik.

Komentar

Postingan Populer